Cerita Tentang Kita

“…kita memilih konsekuensi dari hidup bersama…”
PERSAHABATAN, cinta dan kerjasama merupakan sebuah awal untuk Bengkel Seni Embun yang benar-benar eksis. Sebelumnya, Bengkel Seni Embun hanyalah sebuah eks-kul yang ga’ resmi di sebuah sekolah negeri di Kota Ambon yang dibentuk sama seorang Guru Kesenian oleh karena di beri ‘amanat’ sama W.S. Rendra untuk bisa ngembangin seni teater di Kota Ambon. Ga disangka-sangka ternyata diminati banget oleh banyak anak-anak di sekolah karena emang Cuma organisasi itu yang bisa menyalurkan kreatifitas kita-kita pasca Konflik Kemanusiaan di Kota Ambon.Ga’ bisa dipungkiri kalo banyak banget tantangan dan hambatan dalam gerak maju Bengkel Seni Embun untuk bisa eksis di Kota Ambon. Birokrat sekolah yang menjadi-jadi dan ga jelas, interverensi para guru terhadap anggota bengkel hingga menyebabkan seorang siswa ‘mengundurkan diri’ dari sekolah tersebut, orang tua yang ga’ setuju dan lain sebagainya yang membuat seakan-akan sebuah Bengkel Seni Embun itu merupakan organisasi terlarang. Maybe, kita dianggap kayak PKI kalo di zaman Soekarno yang bakal dihabisin dalam sekejap kalo ada kesempatan. Namun ga’ semurah itu idealisme kita-kita. Dengan segala hambatan itu, Bengkel Seni Embun tetap eksis (namun tentu aja bukan sebagai eks-kul lagi melainkan organisasi yang independent) dan terus mengadakan acara-acara yang bernuansa kesenian namun tetap mempertahankan eksistensi kita sebagai pelajar, karena kita percaya, mereka hanya perlu bukti untuk bisa percaya.
Hingga saat ini, Bengkel Seni Embun terus eksis dengan lebih dari 120 personil, berbagai ide-ide baru dan dipercaya untuk berbagai event dan perusahaan termasuk oleh satu-satunya TV swasta di Kota Ambon untuk mengorganizing sebuah acara utama tentang pelajar yang diberi nama X-Sak (Ekspresi Siswa Ambon Kreatif) dan membintangi sebuah acara komedi situasi (WARKOP-Warung Kopi) hingga membuat para orang tua bisa berlari dan berteriak “Itu anakku”.
Terima Kasih yang sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk bisa berdiri, menengok ke atas dan mengatakan “Kita ga’ bakal mati tanpa pergerakan”, diaz dosa –seorang yang udah kita anggap lebih dari seorang guru, teman dan saudara-, Sang Revolusioner Sejati –Beta Labirin-, semua orang yang terus mendorong kita dari belakang baik dengan tenaga, material, doa, kasih sayang dan pikiran, untuk terus bisa maju dan membusungkan dada, serta segala mimpi, harapan, keinginan dan tekad baja yang memberikan inspirasi tiada batas untuk terus melakukan apa yang hati nurani inginkan. Terima Kasih.
